Kamis, 06 Maret 2008

Kabupaten Cianjur

Desa Kertajaya, Ciranjang, Cianjur, dihuni oleh 6754 jiwa penduduk. Dari Jumlah itu mayoritas bermatapencaharian sebagai petani (sebanyak 950 jiwa), sedangkan jumlah buruh tani adalah sebanyak 470. Juandi, Kepala Desa Kerta Jaya mengatakan bahwa sesungguhnya presentasi buruh tani di Desa Kertajaya mencapai 80% dari total jumlah penduduk. Hamparan sawah-sawah luas di Desa Kertajaya, menurutnya, pada umumnya tidak dimiliki oleh penduduk setempat, akan tetapi dimiliki oleh orang-orang di luar Kertajaya dan bahkan di luar Cianjur, seperti Bandung dan Jakarta. Banyaknya presentasi jumlah buruh tani menurut kepala desa, berasal dari orang-orang yang dulunya sudah bekerja di kota tetapi kemudian di PHK. Mereka kembali ke desa, namun karena tidak memiliki keahlian lain akhirnya menjadi buruh tani adalah sebuah pilihan.

Keunikan dari Desa Kerta Jaya adalah kemajemukan masyarakatnya dalam hal kepercayaan. Desa Kerta Jaya penduduknya banyak menganut agama Islam dan Kristen. Dari Jumlah total penduduk, 5.421 orang beragama Islam dan 1.310 beragama Kristen. Perbandingan jumlah ini cukup unik dibanding dengan kebanyakan desa di Kabupaten Cianjur yang jumlah non-Muslimnya dapat dihitung dengan jari. Untuk menjaga harmoni antara kedua kelompok umat beragama, aparat desa bersama-sama dengan para pemimpin agama berasama-sama mengarahkan warga untuk tetap saling menghormati dan menjaga harmoni. Untuk itu, dibentuklah FKPB (Forum Komunikasi Umat Beragama). Sehingga, sampai saat ini tidak pernah ada konflik antaragama yang muncul. Meski isu-isu tentang kristenisasi kadang berhembus, pengasuh Pesantren Al Musri melihat bahwa hal ini harus disikapi dengan bijak.

Kesejahteraan

Hasil Pendataan Sosial Ekonomi tahun 2006 BPS (Badan Pusat Statistik) menunjukkan bahwa presentasi RMT Miskin di Kabupaten Cianjur mencapai 32,81% yaitu sejumlah 196.486, yang menempati rangking tertinggi ke-lima di Provinsi Jawa Barat (BPS Provinsi Jawa Barat, 2006). Sedangkan Pengeluaran Rata-Rata Per Kapita Sebulan Kabupaten Cianjur pada tahun 2005, menurut data BPS, adalah Rp. 196.486. Angka ini menempati urutan ke-tujuh terendah di Jawa Barat (BPS Provinsi Jawa Barat, 2006).

Pondok Pesantren Miftahul Huda Al Musri berlokasi di Kecamatan Ciranjang kabupaten Cianjur. Dalam hal kesejahteraan, pada tahun 2006 Kecamatan Ciranjang menduduki peringkat kesejahteraan tertinggi ke-5 di Kabupaten Cianjur. Hal ini tampak melalui Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kecamatan Ciranjang yang mencapai angka 61, 91. Angka Indeks Pembangunan Manusia diperoleh dengan menjumlahkan tiga komponen yang terdiri atas Indeks Kesehatan, Indeks Pendidikan dan Indeks Daya Beli.

Desa Kerta Jaya, lokasi Pondok Pesantren Al Musri memiliki potensi alam yang kaya, terutama di bidang pertanian. Namun sebagaimana telah disebutkan, mayoritas penduduk bukan petani pemilik lahan. Seringkali distribusi beras miskin (Raskin) dijadikan ukuran kesejahteraan penduduk setempat. Desa Kerta Jaya sendiri mendapatkan 5700 kg beras untuk didistribusikan ke keluarga miskin. Sehingga, Dari jumlah Kepala Keluarga (KK) di Desa Kerta Jaya yang berjumlah 1799 kepala keluarga, hanya 285 kepala keluarga yang mendapatkan beras miskin. Meski demikian, dengan angka ini, tidak berarti bahwa penduduk Desa Kerta Jaya berada di atas kesejahteraan rata-rata, hanya saja dapat dikatakan cukup.

Pendidikan

Kabupaten Cianjur tercatat sebagai kabupaten dengan Angka Partisipasi Sekolah rendah. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), APS kabupaten Cianjur adalah yang terendah di Provinsi Jawa Barat. Salah contohnya adalah Angka Partisipasi Sekolah SLTP dan SLTA kabupaten Cianjur. Angka Partisipasi Sekolah (APS) Usia Kabupaten Cianjur untuk usia 16-18 tahun dan 19-24 tahun, yang diperoleh dari hasil pendataan BPS Jawa Barat, adalah sejumlah 66,30 dan 23,28 (BPS Provinsi Jawa Barat, 2006). Sedangkan Angka Pendidikan yang ditamatkan (PDT) adalah sejumlah 9, 71 dan 5,92. (BPS Provinsi Jawa Barat 2006) Dari angka-angka tersebut diperoleh bahwa selisih rata-rata APS dan PDT Kabupaten Cianjur adalah 36, 99. Angka ini menunjukan bahwa selisih APS usia 16-18 tahun dan 19-24 tahun dan PDT Kabupaten Cianjur merupakan angka terendah kedua di Provinsi Jawa Barat setelah Kabupaten Tasikmalaya yang rata-rata selisih APS usia 16-18 tahun dan 19-24 tahun dan PDT-nya berjumlah 36,87.

Untuk mengatasi rendahnya partisipasi sekolah di Kabupaten Cianjur, maka pemerintah daerah bersama dengan Dinas Pendidikan Nasional kabupaten melakukan upaya-upaya peningkatan partisipasi sekolah melalui penyelenggaraan program-program pendidikan kesetaraan seperti paket B dan C. Diakui oleh Kadis PLS Diknas Cianjur, bahwa APBD Cianjur terbanyak di fokuskan untuk program paket B dan C. Program ini adalah program pendidikan berbasis keterampilan dan life skill untuk menyiapkan lulusan-lulusannya mampu berperan dalam kegiatan perekonomian daerah.

Program pendidikan kesetaraan, salah satunya difokuskan di pesantren-pesantren salafiyah di Kabupaten Cianjur. Mengingat banyaknya santri pesantren salafiyah yang tidak mengikuti pendidikan formal dan mendapatkan ijazah formal yang dikeluarkan baik oleh Diknas ataupun Depag. Hal ini dikarenakan kecenderungan pesantren salafiyah yang sangat memegang tradisi sehingga menjadikan mereka tertutup dan resistance terhadap modernisasi, termasuk terhadap pendidikan non-agama. Bapak Himam, Kasubdin PLS POBUD (Kepala Sub Dinas Pendidikan Luar Sekolah Pemuda Olah Raga dan Budaya) Kabupaten Cianjur, mengisahkan bagaimana sulitnya mendekati pesantren untuk mengajak mereka terlibat dalam pendidikan formal. Diawali dengan program kerjasama berternak ayam antara Diknas dengan pihak pesantren, akhirnya pesantren mau membuka diri untuk program-program lainnya. Tentu setelah melihat keberhasilan program tersebut. Hingga saat ini sudah lebih dari 100 pesantren yang mau menerima Diknas dan menyelenggarakan program kesetaraan di pesantren.

Salah satu program yang sedang dilaksanakan adalah Program kesetaraan PPK IPM (Program Pendanaan Kompetesi untuk peningkatan Indeks Pembangunan Manusia). Program yang didanai oleh APBD menjaring 80 pesantren di 12 Kecamatan se-Kabupaten Cianjur. Salah satu pesantren yang menjadi lokasi penyelenggaraan program ini adalah Pesantren Miftahul Huda Al Musri. Pesantren ini sudah sejak tahun 2002 ikut serta dalam penyelenggaraan PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat) dengan bekerjasama baik dengan Depag maupun dengan Diknas. Sehingga santri yang mondok di pesantren tidak hanya mendapatkan pendidikan kitab kuning, seperti pesantren-pesantren salafiyah pada umumnya, tetapi juga ijazah kesetaraan.

Latar belakang kesediaan Pesantren Al Musri menyelenggarakan program ini adalah karena pengelola menyadari perlunya mendapatkan pendidikan formal dan mendapatkan ijazah yang legal dari pemerintah untuk dapat berperan di masyarakat. Sebagai contoh mengapa ijazah formal dibutuhkan terdapat pada kisah berikut. Seorang tokoh Cianjur terjegal untuk dapat mencalonkan diri di bursa pemilihan bupati pada tahun 2000 karena hanya memiliki ijazah pesantren. Karena itulah pesantren membuka diri untuk bekerjasama dengan pihak pemerintah. Lebih dari itu, pesantren berkeinginan agar santri-santrinya dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi untuk mengembangkan apa yang sudah mereka dapatkan di pesantren, yang tidak selalu pendidikan agama, tetapi juga pertanian, agribisnis dan lain-lain. Keterbukaan ini juga dilatarbelakangi oleh pengalaman pengasuh pesantren. KH. Saeful Uyun dapat meraih gelar LC di universitas Madinah dengan beasiswa dari pemerintah Arab Saudi berkat ijazah kesetaraan yang dimilikinya. Beliau bersama dua rekannya dari Pesantren Miftahul Huda Al Musri menempuh pendidikan tinggi selama beberapa tahun di Universitas Madinah.

Pendidikan yang Dibutuhkan

Secara umum kabupaten Cianjur memiliki potensi Sumber Daya Alam yang kaya, baik pertanian, peternakan, pariwisata dan hutan. Mendengar nama Cianjur, spontan orang akan teringat dengan daerah wisata Puncak yang terkenal dengan keindahan alamnya, beras pulen Cianjur dan hayam (ayam) pelung, yang terkenal dengan kualitas suaranya yang merdu. Potensi-potensi ini membutuhkan pengelolaan serius yang dapat ditingkatkan dengan peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia melalui pendidikan, seperti yang dikatakan oleh Bapak Himam Haris, Kasubdin PLS Diknas. Karena itulah, program kesetaraan paket B dan C yang diselenggarakan di Kabupaten Cianjur diarahkan pada pendidikan keahlian dan keterampilan yang difokuskan pada bidang-bidang yang mendukung pemanfaatan potensi SDA Cianjur, seperti di bidang pertanian, peternakan, industri mebel, juga keahlian-keahlian lain seperti perbengkelan, konveksi dll.

Miftahul Huda Al Musri adalah pondok pesantren salafiyah yang memfokuskan pada pendidikan kitab kuning. Pondok Pesantren ini menerapkan system pembelajaran yang cukup unik. Meski Pesantren Al Musri adalah pesantren salafiyah yang tidak menyelenggarakan pendidikan formal standar pemerintah Indonesia, pesantren dalam pembelajaran kitab, menerapkan metode kurikulum modern. Hal ini dilakukan dengan menetapkan tingkatan-tingkatan dalam system pembelajaran. Tingkatan-tingkatan tersebut terdiri dari ibtidaiyah, tsanawiyah, aliyah, ma’had aly dan dirosatul ‘ulya. Tingkatan ini ditentukan oleh kemampuan baca kitab santri, dan bukan oleh usia. Sehingga tidak heran apabila menemukan santri berusia di atas 20 tahun yang masih menduduki tingkat ibtidaiyah.

Menyadari akan pentingnya peran santri dalam kegiatan ekonomi di masyarakat, maka pesantren membekali santri dengan life skills yang difokuskan pada bidang agribisnis, seperti pertanian, perikanan, peternakan, dll. Latar belakang dipilihnya bidang agribisnis adalah karena potensi sumber daya alam Kabupaten Cianjur yang mendukung berkembangnya sektor ini. Potensi yang sudah sekian lama menjadi tumpuan hidup masyarakat Cianjur. Di lahan seluas 2 ha yang sudah diolah, hingga kini pesantren sudah memiliki beberapa unit agribisnis, di antaranya: pertanian terdiri dari padi (dengan varietas unggulan seperti IR 65, Ciherang, Pandan Wangi, dan Ketan) dan palawija (kangkung darat/air, cabai dan okra); perikanan (ikan nila gift, gurami, lele, mas), peternakan (domba/kambing, dan bebek); sektor industri (konveksi); perdagangan (waserda dan kantin); dan sektor LKS (Unit Simpan Pinjam). Unit-unit usaha ini dikelola oleh parasantri sebagai sarana pembelajaran life skills. Pesantren mengharapkan agar ketika santri kembali ke masyarakat, mereka tidak hanya mengamalkan ilmu agama yang mereka peroleh, tetapi juga dapat berkreasi dengan keterampilan dan keahlian yang mereka miliki.

Sebetulnya ada perbedaan kecenderungan antara santri laki-laki dan santri perempuan dalam hal pendidikan keahlian di Pesantren Al Musri. Pendidikan bidang agribisnis lebih diperuntukan bagi santri laki-laki. Sedangkan kecenderungan santri perempuan, ialah kepada bidang-bidang seperti pendidikan mengajar, tahfidz, dll. Hal lain yang menarik dari sistem pendidikan di Pesantren Al Musri adalah parasantri senior yang sudah menyelesaikan tingkat Aliyah, berkewajiban untuk menjalani masa pengabdian selama satu tahun. Di masa pengabdian ini, parasantri tidak hanya mengabdi di pesantren tetapi juga di masyarakat. Untuk pengabdian masyarakat, saat ini ada sekitar 60 orang santri disebar ke 50 majelis ta’lim di 4 desa sekitar pesantren untuk mengasuh pengajian ibu-ibu dan bapak-bapak. Begitupula dalam penyelenggaraan pendidikan kesetaraan, santri yang sudah menamatkan pendidikan SMA/sederajat sudah dapat menjadi tutor. Pengabdian semacam ini tidak melihat pada tingkatan pendidikan di pesantren. Sehingga santri setingkat ibtidaiyah yang sudah lulus SMA ataupun Sarjana, dapat menjadi tutor Paket B.

Pendidikan keseteraan di ponpes Miftahul Huda Al Musri diselenggarakan dengan bekerjasama dengan Depag dan Diknas Kabupaten Cianjur, yaitu Wajardikdas 9 tahun dan Paket B dan C. Program ini sudah berjalan sejak tahun 2002. Dengan adanya program ini, santri-santri di pesantren Al Musri mendapatkan ijazah kesetaraan yang dapat digunakan untuk bersaing di dunia kerja maupun untuk melanjutkan pendidikan. Meski tidak mengeyam pendidikan formal seperti anak-anak usia sekolah pada umumnya, santri di pesantren Al Musri memiliki antusiasme tinggi untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, seperti pengakuan Lilis, Ima dan Rara, santriwati ponpes Al Musri. Hal ini pun di amini oleh KH. Saiful Uyun, pengasuh pondok pesantren. KH. Saiful Uyun melihat potensi yang dimiliki santri-santri nya dan membebaskan santri untuk memilih kecenderungan mereka. KH. Saiful berkeyakinan bahwa para santrinya akan mampu bersaing di dunia perkuliahan dengan potensi yang mereka miliki meski mereka tidak mengikuti sekolah formal seperti anak-anak seusia mereka pada umumnya. Dengan bekal lifeskill di pesantren, yang langsung mengarah pada pendidikan praktis ketimbang teori, para santri berpotensi untuk menjadi lebih unggul.

Diakui oleh pihak pesantren bahwa dalam penyelenggaraan program-program tersebut di atas, masih terdapat kekurangan-kekurangan, diantaranya pada fasilitas-fasilitas pendukung pendidikan seperti ruangan, alat peraga pendidikan, computer dan lain-lain. Dengan adanya program Learning Distance melalui internet di pesantren, diharapkan bahwa fasilitas internet akan dapat mendukung proses pendidikan dan pengajaran. Selain itu, santri diharapkan akan mendapatkan satu keahlian lain, yaitu computer dan internet. Internet akan dapat menyajikan informasi-informasi yang dibutuhkan oleh santri, seperti informasi mengenai pendidikan tinggi, informasi dunia dan Lebih dari itu, pesantren berencana untuk menggunakan internet sebagai sarana pemasaran hasil produksi agribisnis pesantren

1 komentar:

arulkul mengatakan...

BRAVO....olwéys lah bwt Al_musri'

Pengunjung ke

Kontak

Alamat: